Lebih dari Miliarder

anak

Lebih dari Miliarder — Bahkan sejak masih kanak-kanak, aku sudah merasa bahwa Jim adalah jodohku. Ketika kami remaja, kami sering duduk-duduk di kursi depan sambil berkhayal tentang masa depan - anak yang akan kami punya, siapa nama mereka dan betapa bahagianya kami nantinya.

Jim sering berkata, "Aku akan selalu mengasihimu. Aku pasti akan menjadi miliarder umur 30 nanti."

Aku dan Jim ternyata memang menjadi suami isteri. Dan Jim memegang teguh ucapannya, dia bekerja sangat keras untuk bisa memenuhi segala keperluan rumah tangga kami. Namun meski ia bekerja keras, hidup kami sederhana. Kami sama sekali bukan orang kaya, apalagi miliarder.

Tiga bulan setelah Jim berulang tahun yang ke-30, aku melahirkan anak pertama kami. Suatu hari, sambil menatang anak kami, aku menggoda Jim, "Apa kamu mau kalau anak kita ditukar dengan uang jutaan dollar?"

Jim agak terkejut. "Tentu saja tidak," katanya, "anak kita tak ternilai harganya!"

"Kalau begitu aku ucapkan selamat," kataku, "engkau lebih dari seorang miliarder karena engkau adalah seorang ayah."

Tama Sinulingga (ed.), Jangan Mau Jadi Paku, Jadilah Palu!, hlm. 44-45

You may like these posts

Post a Comment